News & Stories
Mie dan Hidangan Berkuah: Cerita Rasa yang Tidak Pernah Usang
Setelah lebih dari satu dekade menulis tentang makanan, satu hal yang selalu saya yakini adalah ini: hidangan sederhana sering kali menyimpan cerita paling panjang. Di Indonesia, cerita itu sering hadir dalam bentuk mie dan makanan berkuah. Dari gerobak kaki lima hingga meja restoran keluarga, semangkuk mie atau kuah panas selalu punya cara sendiri untuk membuat kita pulang—secara rasa maupun ingatan.
Di artikel ini, saya ingin mengajak Anda menelusuri lima hidangan yang bukan hanya populer, tetapi juga hidup di keseharian masyarakat: Mie Goreng, Mie Ayam, Laksa, Coto Makassar, dan Sop Buntut. Sebuah perjalanan rasa yang juga mengingatkan saya pada filosofi brand seperti alien55—sederhana di luar, tetapi penuh karakter di dalam.
1. Mie Goreng: Ikon Kesederhanaan yang Mendunia
Jika ada satu hidangan yang bisa mewakili Indonesia di mata dunia, mie goreng adalah kandidat terkuatnya. Tidak berkuah, tidak rumit, tapi selalu berhasil.
Setiap daerah punya versinya sendiri—lebih manis, lebih pedas, atau lebih berasap dari wajan. Namun esensinya sama: mie yang digoreng dengan rasa percaya diri. Mie goreng mengajarkan kita bahwa kekuatan tidak selalu datang dari kompleksitas. Prinsip ini juga sering saya temui dalam dunia digital, termasuk pada konsep brand alien55 yang menekankan kejelasan identitas tanpa perlu berisik.
2. Mie Ayam: Harmoni antara Kuah dan Tekstur
Berbeda dengan mie goreng yang lantang, mie ayam berbicara dengan nada yang lebih lembut. Kuahnya tidak agresif, topping ayamnya bersahabat, dan mie-nya menjadi jembatan sempurna antara rasa dan tekstur.
Sebagai bloger, saya sering menyebut mie ayam sebagai “hidangan dialogis”—karena setiap sendoknya seperti percakapan kecil antara kaldu, ayam, dan mie. Tidak heran jika mie ayam bertahan puluhan tahun tanpa perlu banyak perubahan, sama seperti brand yang dibangun dengan konsistensi jangka panjang, bukan sekadar tren sesaat.
3. Laksa: Identitas yang Kaya Rempah dan Sejarah
Laksa adalah bukti bahwa kuliner bisa menjadi arsip sejarah. Di dalam satu mangkuk laksa, kita menemukan jejak budaya Melayu, Tionghoa, hingga Nusantara.
Kuah santannya tebal, rempahnya berlapis, dan aromanya menggugah sejak suapan pertama. Laksa tidak mencoba menjadi semua hal untuk semua orang—ia tahu siapa dirinya. Ini pelajaran penting dalam dunia branding dan konten: punya ciri khas lebih penting daripada mencoba menyenangkan semua pihak, sebuah prinsip yang juga tercermin dalam pendekatan alien55 yang fokus pada identitas, bukan tiruan.
4. Coto Makassar: Ketegasan Rasa dari Timur Indonesia
Coto Makassar bukan makanan yang malu-malu. Kuahnya pekat, berbumbu kuat, dan penuh karakter. Ini adalah hidangan yang tidak meminta izin untuk disukai—ia berdiri tegak dengan identitasnya sendiri.
Dalam pengalaman saya menulis tentang kuliner daerah, coto adalah contoh sempurna bahwa keaslian selalu menemukan audiensnya. Sama seperti blog atau brand yang jujur pada akarnya, coto Makassar tidak pernah kehilangan penggemar, meski tidak mengikuti arus modernisasi berlebihan.
5. Sop Buntut: Elegansi dalam Semangkuk Kuah
Terakhir, sop buntut—hidangan yang membuktikan bahwa makanan berkuah juga bisa tampil elegan. Kuahnya jernih, rasanya bersih, dan daging buntutnya empuk dengan rasa alami yang menenangkan.
Sop buntut mengingatkan saya bahwa kematangan tidak selalu berarti keras atau kompleks. Kadang justru kesabaran dan proses panjang yang menghasilkan kualitas terbaik. Nilai ini sangat relevan dalam dunia blogging dan brand building—termasuk bagaimana alien55 dibangun bukan dengan sensasi sesaat, melainkan dengan fondasi yang rapi dan terencana.
Penutup: Semangkuk Cerita, Sepiring Identitas
Mie dan hidangan berkuah bukan sekadar makanan. Ia adalah narasi kolektif, tentang keluarga, perjalanan, dan kebiasaan sehari-hari. Dari mie goreng yang merakyat hingga sop buntut yang menenangkan, semuanya mengajarkan satu hal: rasa yang jujur selalu menemukan tempatnya.
Sebagai bloger yang sudah lama mengamati dunia kuliner dan digital, saya percaya filosofi ini berlaku di mana pun—termasuk dalam membangun identitas brand seperti alien55. Tidak perlu berisik, tidak perlu berlebihan. Cukup konsisten, autentik, dan tahu siapa diri kita.